Kementerian
Perhubungan mengakui bahwa hingga saat ini maskapai Nam Air belum memperoleh izin
Air Operator Certificate (AOC). Padahal, maskapai anak usaha Sriwijaya Air ini
berencana mulai mengudara pada 1 Oktober 2013.
Direktur
Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko
Murjatmodjo meminta Nam Air segera mengurus AOC agar mendapatkan rute
penerbangan.
"Percepat
proses AOC nya bisa urus rute dan marketing. Kita harap melebihi saudara tuanya
(Sriwijaya Air)," kaya Djoko di Jakarta, Jumat (27/9).
Dari
data yang dimiliki Djoko, untuk tahap awal Nam Air akan menerbangkan 10
pesawat. Hingga 2019 ditargetkan akan melebihi 100 pesawat termasuk pesawat
buatan B.J Habibie yaitu R-80.
Dengan
melihat target jangka panjang berbagai maskapai penerbangan, Djoko menyadari
perlunya dukungan infrastruktur bandara. Sejauh ini, infrastruktur bandara
masih kalah cepat dibanding pertumbuhan bisnis penerbangan. Namun, dia berjanji
akan selalu mengembangkan infrastruktur agar antrean pesawat dan penumpang
tidak menumpuk di setiap bandara di Indonesia.
"Pertumbuhan
angkutan udara memang tidak sepadan dengan infrastruktur. Tapi kita terus
melakukan pengembangan seperti nanti November Kualanamu akan diresmikan.
Lainnya yang sudah itu Padang, Aceh, Surabaya terminal 2 akan segera beroperasi
dan terus berkembang. Balikpapan Sepinggan akan segera operasi juga termasuk di
Bali internasional. Banyak yang kita lakukan," tutupnya.